JAKARTA – Pemeringkatan perguruan tinggi yang dilakukan oleh berbagai lembaga hanya ajang untuk mencari iklan.

Hal itu dikemukakan oleh Peraih Nobel Fisika 2011, Profesor Brian Schmidt yang ditemui awak media dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025, di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), ITB, Jawa Barat, pekan lalu.

Kemudian ia juga menerangkan tujuan pemeringkatan melakukan hal tersebut adalah untuk mencari iklan. Sehingga menjadi kekeliruan besar jika digunakan sebagai parameter memilih universitas.

Pasalnya, kebutuhan kampus di setiap negara pastinya berbeda. Ia mencontohkan, kebutuhan kampus di Indonesia dan Cambridge University takkan sama.

“Kebutuhan universitas di Indonesia sangat berbeda dengan universitas seperti Cambridge. Menilai mereka dengan standar yang sama membuat universitas merasa harus menjadi ‘Cambridge yang kaya’, bukan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri,” tegas Schmidt.

Dalam hal indikator pemeringkatan pun Schmidt menyebut tak berkaitan dengan pelajar atau calon mahasiswa. Sehingga lembaga pemeringkatan terkesan tidak memedulikan kebutuhan mereka.

Kampus Berlomba dalam Peringkat

Dampak buruk pemeringkatan lainnya adalah menjadikan kampus lebih fokus mengejar kualitas yang bisa menaikkan peringkat. Bukan lagi pada esensi kebutuhan mahasiswa.

“Universitas jadi terjebak dalam perlombaan menaikkan peringkat, bukan memenuhi kebutuhan nyata mahasiswa. Ini distorsi besar dalam sistem pendidikan tinggi,” ujarnya.

Menurut Schmidt, lembaga (pemeringkatan) sebaiknya membuat informasi soal gaya belajar, program studi hingga lingkungan belajar yang cocok dengan mahasiswa.

“Itu jauh lebih membantu dibanding sekadar melihat siapa yang ranking satu,” katanya.

Saat ini banyak bermunculan lembaga pemeringkatan yang membuat daftar kampus terbaik berdasarkan beberapa kriteria. Ternyata data yang mereka sajikan menurut ilmuwan satu ini tak adil bagi pelajar.

Profesor Brian Schmidt berpendapat pemeringkatan tersebut tidak menjawab kebutuhan mereka. Namun, hanya ditujukan agar lembaga mendapatkan keuntungan.

“Mereka dibuat agar pelajar tahu ke mana ingin melanjutkan studi. Tapi cara menentukan universitas yang ‘baik’ sangat mudah dimanipulasi,” katanya. (Red)

Redaksi
Bagikan

By Redaksi

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *