
GAZA – Rumah sakit di Gaza telah mencatat 15 kematian, termasuk empat anak, di Gaza karena kelaparan dan kekurangan gizi selama 24 jam terakhir di tengah blockade Israel di Jalur Gaza. Hal ini menjadikan jumlah total kematian terkait kelaparan di Jalur Gaza menjadi 101 orang, termasuk 80 anak-anak, sejak Israel melancarkan perangnya di Gaza pada Oktober 2023.
Sedangkan kantor berita WAFA melansir, setidaknya 21 anak meninggal karena kelaparan dan kekurangan gizi di berbagai wilayah Jalur Gaza dalam 72 jam terakhir, menurut sumber medis. Anak-anak yang meninggal dibawa ke rumah sakit termasuk Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza, Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah, dan Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, sumber tersebut melaporkan.
Para pejabat medis memperingatkan bahwa kasus-kasus kelaparan dan kekurangan gizi yang parah terus terjadi, memperingatkan akan adanya “lonjakan kematian yang mengerikan” seiring dengan memburuknya krisis kemanusiaan akibat blokade yang diberlakukan Israel dan eskalasi militer yang sedang berlangsung.
Sejak Selasa dini hari, sumber-sumber rumah sakit di Gaza melaporkan empat kematian di Jalur Gaza, termasuk dua anak-anak, karena kekurangan gizi dan dehidrasi sejak Selasa dini hari.
Sementara sumber di Kompleks Medis Al-Shifa melaporkan kematian seorang bayi bernama Yousef Al-Safadi karena kekurangan gizi di Jalur Gaza utara, Kompleks Medis Nasser mengumumkan kematian Abdul Hamid Al-Ghalban dari Khan Yunis, juga karena kekurangan gizi. Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Jalur Gaza juga mengumumkan kematian warga Palestina Ahmed Al-Hasanat karena kekurangan gizi.
Direktur bantuan medis di Gaza memperingatkan kematian massal akibat kelaparan, dengan mengatakan bahwa Jalur Gaza “telah memasuki tahap kelaparan yang berbahaya, dan kami memperkirakan akan terjadi kematian massal pada perempuan dan anak-anak.”
Direktur Bantuan Medis di Gaza membenarkan bahwa ada sejumlah besar kasus malnutrisi di pusat-pusat kesehatan, dan menjelaskan bahwa 60.000 wanita hamil di Jalur Gaza menderita kekurangan gizi dan kelaparan.
Sementara itu, juru bicara pemerintah kota Gaza mengatakan kepada Aljazirah bahwa kehausan melanda kota tersebut, dan mencatat bahwa pasokan air per kapita kurang dari 5 liter per hari untuk minum, memasak, mandi, dan kebutuhan lainnya, dan air sumur saat ini hanya memenuhi kurang dari 12 persen dari total kebutuhan harian warga.
Lebih dari 900.000 anak di Gaza saat ini menghadapi kelaparan, dan setidaknya 70.000 anak memasuki tahap malnutrisi klinis.
Mereka juga menekankan bahwa kehidupan pasien dengan kondisi kronis seperti diabetes dan penyakit ginjal semakin berisiko, karena banyak dari mereka yang menderita komplikasi berbahaya yang dipicu oleh kelaparan berkepanjangan. “Kesengajaan membuat warga sipil kelaparan menyebabkan keadaan darurat medis yang luas,” kata seorang petugas kesehatan. “Ini bukan sekadar krisis—ini adalah runtuhnya kondisi kelangsungan hidup manusia di Gaza.”
Situasi di Gaza bagi anak-anak dan keluarga mereka adalah “bencana besar”, menurut Rachel Cummings, direktur kemanusiaan Save the Children. Berbicara kepada Aljazirah dari Deir el-Balah di Gaza tengah, dia mengatakan sudah lama tidak ada pasokan makanan yang cukup di Gaza. Pasar-pasar kosong dan kondisi sanitasi air tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan 2 juta orang, “yang semuanya berada di ambang kelaparan”, katanya.
Dia mengatakan di Deir el-Balah, dia melihat “orang-orang kelaparan, anak-anak membawa mangkuk kosong, mencari makanan, mencari air. Benar-benar keadaan yang menyedihkan di sini.
“Kami melihat peningkatan jumlah anak-anak di klinik dan pusat nutrisi kami yang mengalami kekurangan gizi… Kami juga melihat peningkatan jumlah wanita hamil dan menyusui yang juga kekurangan gizi,” katanya, seraya menambahkan “semua orang di Gaza kelaparan sekarang, dan bahkan di tim saya, saya melihat tim saya terlihat kurus, dan mereka juga tidak bisa mendapatkan makanan di pasar.”
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza Mahmoud Basil mengatakan kepada Aljazirah bahwa dia melakukan mogok makan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa warga Palestina di daerah kantong yang terkepung “memiliki hak untuk hidup”.
“Anak-anak kami mati kelaparan. Yang kami minta hanyalah agar bantuan kemanusiaan disalurkan, tanpa batasan atau syarat apa pun,” katanya, seraya menambahkan bahwa GHF yang didukung Israel dan AS telah mempersenjatai makanan, dengan para pencari bantuan berbondong-bondong datang ke lokasi mereka dan kemudian meninggalkannya dalam kantong mayat.
“Seluruh dunia harus bertindak, yaitu organisasi hak asasi manusia … melawan genosida yang terjadi terhadap penduduk sipil tak bersenjata di Gaza,” pintanya, seraya menambahkan “seluruh dunia harus bertindak, mulai dari ulama, pengkhotbah, anggota parlemen; mereka semua harus bertindak, mereka harus melakukan aksi, protes, aksi duduk, bahkan mogok makan.
“Tujuan utama saya melakukan mogok makan adalah untuk menyaksikan anak-anak sekarat karena kelaparan. Saya melihat para ibu tidak mampu memberi makan anak-anak mereka, dokter dan perawat tidak mampu melayani pasien mereka.”
Antara 27 Mei dan 21 Juli, pasukan Israel membunuh 1.054 warga Palestina di Gaza ketika mereka mencoba mengakses makanan, kata Kantor Hak Asasi Manusia PBB. Dikatakan 766 dari mereka syahid di dekat lokasi GHF yang didukung AS dan Israel dan 288 syahid di dekat konvoi PBB atau organisasi bantuan lainnya.
“Warga Palestina di Gaza sekarat karena kelaparan atau peluru tentara Israel saat mencoba mendapatkan makanan,” bunyi pernyataan PBB. “Kematian dan penderitaan fisik dan psikologis yang mengerikan akibat kelaparan adalah akibat dari campur tangan Israel dalam pengiriman dan militerisasi bantuan kemanusiaan.” (Red)
- Korban Meninggal dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Sebanyak 15 Orang - April 28, 2026
- Hari ke-8 Operasional Haji 1447 H: 40.796 Jemaah Diberangkatkan - April 28, 2026
- 10 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2026 - April 28, 2026

