TEHERAN – Jumlah korban jiwa akibat serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah meningkat menjadi 787 orang.

Demikian laporan Aljazirah, mengutip data yang disampaikan Bulan Sabit Merah Iran pada Selasa (3/3/2026).

Militer Israel dan AS mulai menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu. Operasi ini tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa di sejumlah wilayah Iran. Pemimpin tertinggi negara republik Islam tersebut, Ayatullah Ali Khamenei, juga dilaporkan syahid usai kediamannya di Teheran menjadi sasaran serangan udara AS-Israel.

Sebelumnya, serangan gabungan Washington dan Tel Aviv pada Sabtu (28/2/2026) lalu menarget sebuah sekolah putri Shadjareh Tayebeh di Iran selatan. Menurut keterangan media setempat, sebanyak 165 orang kehilangan nyawa akibat serangan tersebut.

The Guardian melansir, video dan foto-foto setelah kejadian tersebut, yang telah diverifikasi keasliannya dan memiliki geolokasi ke lokasi tersebut, menunjukkan ratusan orang berkumpul di sekitar bangunan yang sebagian runtuh dan berasap, dengan puing-puing berserakan di jalan dan para lelaki menggali di dalamnya untuk mencari korban. Jeritan terdengar di latar belakang.

Dalam beberapa gambar, tas sekolah dan buku pelajaran ditarik dari puing-puing. Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS, mengatakan AS “mengetahui laporan mengenai kerugian warga sipil akibat operasi militer yang sedang berlangsung. Kami menanggapi laporan ini dengan serius dan sedang menyelidikinya.”

Di Washington DC, Presiden AS Donald Trump menyatakan, operasi militer negaranya bersama dengan Israel terhadap Iran bisa berlangsung sekira empat pekan. Ia juga mengakui konsekuensi dengan durasi perang tersebut akan ada korban jiwa dari kalangan militer AS.

“Prosesnya selalu memakan waktu empat pekan. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat pekan. Prosesnya selalu sekitar empat pekan, jadi sekuat apa pun negara ini, akan memakan waktu empat pekan atau kurang,” kata Trump dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Daily Mail, dilansir Selasa (3/3/2026).

Minim dukungan

Hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh Reuters/Ipsos menunjukkan, hanya satu dari empat warga AS yang menyetujui serangan militer negaranya terhadap Iran. Agresi yang dilakukan bersama Israel tersebut telah menjerumuskan kawasan Timur Tengah ke dalam pusaran konflik.

Berdasarkan survei tersebut, hanya 27 persen responden AS yang menyatakan setuju terhadap serangan yang dimulai sejak Sabtu (28/2/2026) dini hari dan menewaskan pemimpin Iran tersebut. Sebaliknya, sebanyak 43 persen responden menyatakan tidak setuju. Adapun 29 persen lainnya mengaku ragu-ragu.

Jajak pendapat yang berakhir pada Ahad (1/3/2026) ini juga mengungkapkan bahwa 56 persen warga AS menilai Presiden Donald Trump terlalu mudah menggunakan kekuatan militer untuk memajukan kepentingan AS. Pandangan ini dianut oleh 87 persen pendukung Partai Demokrat, 60 persen pemilih independen, dan secara mengejutkan didukung oleh 23 persen pendukung Partai Republik. (Red)

Redaksi
Bagikan

By Redaksi

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *