JAKARTA – Di antara anugerah besar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam pada bulan suci Ramadhan adalah adanya Lailatul Qadar.

Malam ini memiliki keutamaan yang sangat agung, bahkan disebut dalam Alquran sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang luar biasa besar dibandingkan dengan ibadah pada waktu-waktu lainnya.

Menariknya, Allah SWT tidak memberitahukan secara pasti kapan malam Lailatul Qadar terjadi. Tidak ada tanggal tertentu yang ditetapkan secara tegas.

Rasulullah SAW hanya memberikan petunjuk bahwa malam itu berada pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Hal ini tercermin dalam hadis yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Artinya: “Dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha: Ketika Rasulullah SAW memasuki sepuluh terakhir Ramadhan, maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan qiyamullail) dan membangunkan keluarganya serta mengencangkan ikatan kainnya (menjauhi isterinya untuk lebih konsentrasi beribadah).” (HR Bukhari dan Muslim)

Imam an-Nawawi (wafat 676 H) menjelaskan bahwa hadis ini menjadi dalil dianjurkannya memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan serta menghidupkan malam-malamnya dengan berbagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT:

فَفِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُزَادَ مِنَ الْعِبَادَاتِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَاسْتِحْبَابُ إِحْيَاءِ لَيَالِيهِ بِالْعِبَادَاتِ

“Dalam hadis ini terdapat keterangan bahwa disunnahkan untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, dan dianjurkan menghidupkan malam-malamnya dengan berbagai bentuk ibadah.” (Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim [Beirut: Dar al-Ihya at-Turats al-Arabi], vol. 8, h. 70)

Lalu pertanyaan yang kerap muncul adalah mengapa Allah merahasiakan waktu pasti Lailatul Qadar, padahal malam tersebut memiliki keutamaan yang begitu besar?

Para ulama menjelaskan bahwa di balik kerahasiaan ini terdapat sejumlah hikmah yang mendalam.

Imam Ibn Qudamah al-Maqdisi (wafat 620 H) menuturkan bahwa Allah menyembunyikan waktu Lailatul Qadar agar para hamba-Nya bersungguh-sungguh dalam beribadah dan berdoa untuk mencarinya. Hal ini serupa dengan disembunyikannya waktu mustajab pada hari Jumat.

وَقِيلَ: أَخْفَى اللَّهُ تَعَالَى هَذِهِ السَّاعَةَ لِيَجْتَهِدَ عِبَادُهُ فِي دُعَائِهِ فِي جَمِيعِ الْيَوْمِ طَلَبًا لَهَا، كَمَا أَخْفَى لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ

“Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala menyembunyikan (waktu mustajab di hari Jumat) agar para hamba-Nya bersungguh-sungguh berdoa sepanjang hari untuk mencarinya, sebagaimana Allah menyembunyikan malam Lailatul Qadar di antara malam-malam bulan Ramadhan.” (Al-Mughni [Kairo: Maktabah al-Qahirah], vol. 2, h. 263)

Penjelasan yang serupa juga disampaikan oleh Syekh Ibn Hajar al-Asqalani (wafat 852 H). Menurut beliau, hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadar adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Jika malam tersebut diketahui secara pasti, maka kemungkinan besar orang-orang hanya akan beribadah pada malam itu saja.

قَالَ الْعُلَمَاءُ: الْحِكْمَةُ فِي إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لِيَحْصُلَ الِاجْتِهَادُ فِي الْتِمَاسِهَا، بِخِلَافِ مَا لَوْ عُيِّنَتْ لَهَا لَيْلَةٌ لَاقْتُصِرَ عَلَيْهَا كَمَا تَقَدَّمَ نَحْوُهُ فِي سَاعَةِ الْجُمُعَةِ

“Para ulama berkata: hikmah disembunyikannya malam Lailatul Qadar adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Berbeda halnya jika malam tersebut ditentukan secara pasti, maka orang-orang akan mencukupkan diri hanya pada malam itu saja, sebagaimana telah disebutkan hal yang serupa mengenai waktu mustajab pada hari Jumat.” (Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari [Mesir: al-Maktabah as-Salafiyah], vol. 4, h. 266)

Selain itu, Syekh Dr Wahbah az-Zuhaili (wafat 1436 H) mengungkapkan dalam tafsirnya bahwa kerahasiaan Lailatul Qadar memiliki hikmah yang mirip dengan disembunyikannya waktu kematian dan Hari Kiamat.

Tujuannya agar manusia selalu terdorong untuk meningkatkan ketaatan, tidak lalai dalam beribadah, serta tidak merasa cukup hanya dengan sedikit amal.

Bahkan, menurut az-Zuhaili kerahasiaan ini juga merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, agar manusia tidak dengan sengaja melakukan maksiat pada malam itu.

الْحِكْمَةُ فِي إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ كَالْحِكْمَةِ فِي إِخْفَاءِ وَقْتِ الْوَفَاةِ وَيَوْمِ الْقِيَامَةِ، حَتَّى يَرْغَبَ الْمُكَلَّفُ فِي الطَّاعَاتِ، وَيَزِيدَ فِي الِاجْتِهَادِ، وَلَا يَتَغَافَلَ، وَلَا يَتَكَاسَلَ، وَلَا يَتَّكِلَ. وَمِنَ الْإِشْفَاقِ أَيْضًا أَلَّا تُعْرَفَ لِلْمُكَلَّفِ بِعَيْنِهَا لِئَلَّا يَكُونَ بِالْمَعْصِيَةِ فِيهَا خَاطِئًا مُتَعَمِّدًا

“Hikmah disembunyikannya malam Lailatul Qadar sama seperti hikmah disembunyikannya waktu kematian dan hari kiamat, yakni agar seorang mukallaf terdorong untuk memperbanyak ketaatan, meningkatkan kesungguhan dalam beribadah, tidak lalai, tidak malas, dan tidak bersandar (berpuas diri). Di antara bentuk kasih sayang Allah juga adalah bahwa malam itu tidak diketahui secara pasti oleh manusia, agar seseorang tidak dengan sengaja melakukan maksiat pada malam tersebut.” (At-Tafsir al-Munir [Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir], vol. 30, h. 338)

Dari berbagai penjelasan para ulama di atas, dapat dipahami bahwa dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar bukanlah tanpa tujuan.

Di balik kerahasiaan tersebut terdapat hikmah yang sangat dalam. Allah SWT menghendaki agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu, tetapi bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan berbagai bentuk ketaatan.

Kerahasiaan ini juga menjadi bentuk pendidikan spiritual bagi seorang mukmin agar selalu menjaga kesungguhan dalam beribadah, tidak merasa cukup dengan amal yang sedikit, serta terus berharap akan rahmat dan ampunan Allah.

Dan sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, setiap malam pada sepuluh hari terakhir Ramadhan memiliki peluang besar untuk menjadi malam yang penuh keberkahan bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh mencarinya. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb. (Red)

Sumber: mui.or.id

Redaksi
Bagikan

By Redaksi

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *