
JAKARTA – Universitas Terbuka (UT) mengukuhkan enam profesor yang membawa berbagai gagasan berbasis riset untuk menjawab tantangan pembangunan. Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah pengelolaan lingkungan berkelanjutan melalui pendekatan baru dalam pengelolaan sungai dan kawasan permukiman.
Rektor Universitas Terbuka Ali Muktiyanto mengatakan pengukuhan profesor bukan sekadar seremoni akademik, melainkan momentum menghadirkan hasil riset yang dapat memberikan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
“Keenam profesor ini menunjukkan bahwa tantangan masa depan tidak dapat dijawab oleh satu disiplin ilmu semata,” ujar Ali di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Kamis (6/8/2026).
Dalam bidang pendidikan, Prof. Dr. Tita Rosita, M.Pd. mengangkat pentingnya membangun ekosistem pembelajaran abad ke-21 yang adaptif, personal, dan berpusat pada mahasiswa melalui pemanfaatan teknologi, analitik pembelajaran, serta AI.
Sementara itu, Prof. Dr. Suparti, M.Pd. menyoroti strategi pembelajaran literasi untuk membentuk peserta didik yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif di era digital.
Adapun Prof. Dr. Mery Noviyanti, S.Si., M.Pd. menghadirkan pendekatan baru dalam pembelajaran matematika melalui pemanfaatan AI, Python Virtual Lab, dan GeoGebra dalam pembelajaran matematika guna memperkuat kemampuan computational thinking dan literasi AI.
Di bidang tata kelola pemerintahan, Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Si. mengusulkan konsep smart governance yang mengintegrasikan teknologi digital, data, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Di sisi lain, Prof. Dr. Rahmat Hidayat, S.Sos., M.Si. menawarkan desain model pelaporan kolaboratif berbasis End Mobile Traffic App untuk memperkuat perlindungan pekerja migran dari praktik forced scamming yang semakin berkembang.
Menurut Ali, keenam profesor mengangkat beragam bidang kajian, mulai dari pendidikan, tata kelola pemerintahan, lingkungan, literasi, kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), hingga perlindungan pekerja migran.
Salah satu orasi ilmiah yang menyoroti isu lingkungan disampaikan oleh Edi Rusdiyanto melalui konsep River-Settlement Symbiotic System (RS3). Pendekatan tersebut memandang sungai sebagai bagian dari ruang hidup masyarakat yang harus dikelola secara terpadu bersama kawasan permukiman.
Melalui konsep tersebut, pengelolaan sungai tidak hanya diarahkan untuk menjaga kualitas lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan kawasan perkotaan sekaligus mengurangi risiko bencana.
Ali mengatakan seluruh hasil riset yang dipaparkan para profesor menunjukkan bahwa penelitian di perguruan tinggi tidak berhenti sebagai temuan akademik, tetapi harus mampu menjadi dasar penyusunan solusi yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Bagi UT, itulah makna seorang profesor. Gelar akademik tertinggi bukan menjadi garis akhir perjalanan keilmuan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus menghasilkan pemikiran yang relevan dengan kebutuhan zaman,” kata Ali. (Red)
- UT Kukuhkan Enam Guru Besar - August 6, 2026
- Takut Teluk Dijadikan Lautan Api, Trump Batalkan Serangan ke Iran - August 6, 2026
- Gempa M5,3 di Pangandaran, tak Berpotensi Tsunami - August 5, 2026
