
TEHERAN – Penasihat dan utusan dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohammad Mokhber yang dikutip pada Jumat (14/8/2026) mengatakan bahwa, Iran kemungkinan akan mengubah strategi perang menjadi ofensif ketimbang membalas setiap serangan musuh seperti sebelumnya. Strategi itu akan diterapkan jika syarat-syarat yang ditetapkan Teheran tak dipenuhi Amerika Serikat (AS).
“Strategi definitif Pemimpin Tertinggi adalah perang menjadi ofensif jika syarat-syarat dari Iran tidak dipenuhi,” kata Mokhber dalam unggahan di X, dikutip Anadolu.
Mokhber mengeklaim bahwa kegagalan AS dalam melindungi sekutunya di Teluk mendemonstrasikan keterbatasan jaminan keamanan dari Washington. Menurut Mokhber, fondasi paling kuat untuk sebuah tatanan kawasan yang baru adalah implementasi dari mekanisme keamanan Selat Hormuz yang bebas dari pengaruh AS.
Secara terpisah, Ebrahim Azizi, kepala dari Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen Iran, mengingatkan negara-negara di kawasan untuk tidak bergantung kepada apa yang dia gambarkan sebagai “musuh-musuh Islam”. Tindakan bergantung kepada musuh Islam, menurutnya, akan menempatkan kedaulatan dalam risiko.
Menurut Azizi, instabilitas kawasan akibat dari ketergantungan pada pengaruh asing akan “memicu sebuah respons tegas dan menentukan yang tak terhindarkan dari Iran.”
Pernyataan Mokhber dan Azizi itu bersamaan dengan proses negosiasi antara Iran dan Oman untuk pengaturan navigasi Selat Hormuz. Teheran telah mengajukan proposal mekanisme Hormuz sebagai sebuah kerangka kerja untuk mengatur navigasi komersial dan keamanan di selat strategis itu.
Sebelumnya pada Kamis, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya membantah klaim Washington yang menjamin kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz dengan menyebut kalim itu sebagai “kebohongan tanpa dasar”. Dalam sebuah pernyataan ditayangkan IRIB, Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap “dalam manajemen dan kontrol penuh” Iran dan mengeklaim bahwa tidak ada kapal komersial atau kapal tanker yang bisa transit secara aman di Selat Hormuz tanpa otorisasi dan pengawasan dari Angkatan Bersenjata Iran.
Sebelumnya, Wakil Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Reza Sheikh dikutip IRNA, Rabu (12/8/2026) mengatakan bahwa 75 persen dari total stok rudal dan drone Iran saat ini masih utuh dan siap digunakan melawan AS dan Israel. Pernyataan Ali Reza membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut kapabilitas militer Iran telah hancur.
Menurut Ali Reza, serangan AS dan Israel sejauh ini tidak seefektif klaim Washington. “Lebih dari 75 persen kapabilitas rudal dan drone Iran masih utuh dan siap,” ujar Sheikh.
Dia menggambarkan sistem drone Iran telah menjadi sebuah “mimpi buruk bagi musuh”, dalam sebuah pesan yang bertujuan untuk menegaskan keberlanjutan kemampuan Iran dalam menggunakan sistem drone meski diserang AS dan Israel. Komentar Ali Reza Sheikh kontras dengan klaim Trump yang menebut Iran saat ini hanya memiliki sekitar 21 hingga 22 persen dari total stok rudal dan drone.
Menurut publikasi Defense Express dilansir UNN, Rabu, Iran bahkan berencana memproduksi rudal balistik dengan daya jelajah hingga 15 ribu kilometer yang bisa menjangkau wilayah AS. Rencana itu diungkap oleh Abd al-Nabi Musavi Fard, seorang perwakilan dari Pemimpin Tertinggi Iran dalam sebuah pernyataan lewat khotbah Jumat pekan lalu.
Defense Express melaporkan, transisi dari rudal jarak menengah ke sistem antarbenua akan menjadi lompatan teknologi yang sulit. Untuk bisa menghantam langsung wilayah Washington dan New York dari Iran, dibutuhkan rudal yang memiliki jangkauan minimal 10 ribu kilometer. (Red)
- Iran Siapkan Strategi Perang Baru, AS akan Dihantam Duluan - August 14, 2026
- Data BPS: 18,01 Juta Rumah Tangga di Indonesia Tinggal di Rumah tak Layak Huni - August 14, 2026
- Masjid Istiqlal tidak akan IPO, Wakaf Saham Murni Dana Hibah - August 13, 2026

