JAKARTA – Indonesia sudah enam kali menjalankan Pemilihan Umum untuk Presiden dan Wakil Presiden. Tapi nilai substansial dari demokrasi di Indonesia masih belum ada. Pemilu seakan berjalan secara mekanik, tidak memiliki ruh.

Atas gejala tersebut, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menyebut demokrasi di Indonesia adalah demokrasi zombi. Yaitu suatu proses demokrasi yang berjalan sesuai mekanisme yang ada tapi tidak memiliki ruh.

“Jadi demokrasi kita istilahnya menjadi demokrasi zombi. Jadi demokrasi kita sekarang seperti demokrasi zombi, yang dia berjalan tanpa ruh. Dia berjalan karena itu mekanisme yang ada, tetapi ruhnya tidak ada,” kata Mu’ti dilansir dari laman resmi Muhammadiyah, Jumat (29/12/2023).

Karena demokrasi zombi ini masih berlaku di Indonesian, maka meski sudah enam kali Pemilihan Presiden dilewati oleh Indonesia, akan tetapi proses demokrasi tidak semakin maju, malah yang terjadi justru mengalami kemunduran.

Oleh karena itu, Abdul Mu’ti berharap supaya media bisa memberikan resonansi yang lebih substantif kepada khalayak. Tidak lagi berkutat pada pemberitaan hasil-hasil survei saja, sebab menurutnya itu terlalu monoton.

Khususnya untuk menjangkau generasi muda, menurutnya perlu ada kemasan informasi atau berita secara ringan dan berbumbu jenaka. Terkait itu, Abdul Mu’ti menyinggung trend roasting yang dilakukan oleh comika kepada publik figure, termasuk politisi.

“Sebenarnya kita juga mengharapkan sesuatu yang ringan-ringan dari politik yang itu bisa membawa pesan bahwa siapapun yang menang Indonesia harus menjadi pemenang utamanya, kira-kira begitu,” imbuhnya.

Selain itu, Sekum PP Muhammadiyah yang dikenal jenaka ini juga berharap Pemilu 2024 nanti dapat diselenggarakan dengan fun atau gembira. Pemilu harus bisa ditampilkan sebagai suatu even yang menyenangkan dan menggembirakan, bukan menakutkan.

Pesan-pesan kegembiraan yang ada di proses Pemilu diharapkan mampu menarik perhatian generasi muda. Kepentingan generasi ini harus diakomodir dalam Pemilu, sebab tidak sepenuhnya benar bahwa mereka itu tidak serius untuk hal-hal ini.

“Saya kira kalau kita tadi menargetkan anak-anak muda kan mereka ini juga menyikapi politik juga ternyata dengan gembira juga. Tapi ternyata pandangan kita itu bahwa mereka itu tidak serius, itu ternyata keliru. Mereka itu serisu juga tetapi menyeriusinya dengan cara mereka. Ini yang menurut saya perlu kita bangun, karena mayoritas pemilih terbesar itu kan mayoritas mereka-mereka ini,” ungkap Abdul Mu’ti.

Abdul Mu’ti juga berpesan supaya memandang jabatan secara biasa-biasa saja. Naik dan turunnya pejabat juga dianggap sebagai hal yang biasa. Jangan sampai ada sakralitas dan mistifikasi jabatan dan pejabat. (Red)

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *