
JAKARTA – Perhelatan Pemilu 2024 tak lama lagi akan digelar. Pesta demokrasi lima tahunan yang akan memilih pasangan calon presiden dan calon wakil presiden berikut calon anggota legislatif tersebut pun menghangatkan suhu politik belakangan ini, terlebih selepas debat yang berlangsung seru antara capres dan debat antara cawapres.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pun berharap para calon presiden dan wakil presiden maupun calon anggota DPR dapat memahami nilai-nilai Keindonesiaan, yakni agama dan kebudayaan. Haedar mengingatkan bahwa agama dan budaya harus selalu dijaga di dalam nilai keindonesiaan. Menurut Haedar, dua nilai tersebut ikut melahirkan Pancasila. Meski demikian, Haedar mengaku masih mempertanyakan apakah para capres-cawapres maupun para caleg memahami hal fundamental tersebut dalam berbangsa dan bernegara.
“Kontestasi pemilu presiden maupun pemilu legislatif diharapkan berlangsung memperkuat nilai-nilai dasar keindonesiaan,” ujar Haedar Nashir dalam Refleksi Akhir Tahun 2023, di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (28/12/2023).
Haedar juga mempertanyakan apakah para capres-cawapres memahami apa yang diperdebatkan dalam sesi debat. Menurut Haedar, jangan sampai agenda debat seperti cerdas cermat.”Kalau cerdas cermat kan betapa dangkalnya. Karena kan dari ketiga capres akan memimpin negara ini,” timbal dia.
Haedar mengingatkan soal kegigihan para pendiri bangsa dalam membangun nilai-nilai dasar keindonesiaan. Menurut dia, para pendiri negara sangat serius menyiapkan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat. Ia mengingatkan agar para elite dan kontestan yang maju dalam pemilihan presiden maupun anggota legislatif untuk mengingat kembali sejarah berdirinya Indonesia. Dengan demikian, kata dia, diharapkan dinamika politik yang terjadi di masa menuju pemilu ini benar-benar menjaga muruah bangsa.
Dia mengaku sangat tidak ingin menyaksikan pemilu mendatang berlangsung pragmatis dan oportunistik. “Yaitu pemilu yang hanya mencari menang,” ujarnya.
Menurut Haedar, yang harus diperhatikan adalah apa yang dilakukan setelah menang atau terpilih nanti. “Kita kan tidak mungkin menyerahkan nasib 200 juta lebih penduduk kepada elite yang hanya asal menang,” kata dia.
Dia menerima bahwa memang dalam pemilu pasti ada pemenangnya. Namun, kata dia, siapa pun yang menang itu memang memiliki kemampuan kenegarawanan. Di sisi lain, ia meminta agar penyelenggara pemilu, terutama KPU dan Bawaslu, bisa menjaga muruah pemilu yang bermartabat. Haedar tidak menginginkan pemilu mendatang diwarnai kecurangan yang dominan.
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengingatkan soal pentingnya nilai-nilai substansial dalam demokrasi. “Jangan sampai demokrasi kita demokrasi zombi. Demokrasi yang berjalan tanpa ruh,” kata Mu’ti.
Dia menginginkan pemilu mendatang harus berjalan secara menyenangkan, adil, jujur, dan penuh persahabatan. Mu’ti menilai edukasi politik untuk masyarakat penting sekali dijalankan oleh elemen bangsa, seperti masyarakat sipil, ormas, juga media. (Red)
