GAZA – Sindikat Jurnalis Palestina mengungkapkan bahwa penargetan jurnalis Palestina oleh penjajah Israel telah melampaui pembunuhan langsung, cedera, penahanan, atau pembatasan pemberitaan. Lembaga itu mencatat, setidaknya 706 anggota keluarga jurnalis terbunuh dalam genosida tersebut. 

Dalam sebuah laporan yang dikutip pada Minggu (28/12/2025), disebutkan bahwa serangan penjajah Israel terhadap jurnalis telah mencapai tingkat yang lebih berbahaya dan brutal. Israel menargetkan keluarga dan kerabat jurnalis dalam upaya nyata untuk mengubah jurnalisme menjadi beban eksistensial, yang harganya dibayar nyawa anak-anak, pasangan, dan orang tua. 

Menurut pemantauan dan dokumentasi oleh Komite Kebebasan Sindikat Jurnalis Palestina, penargetan sistematis terhadap keluarga jurnalis oleh pasukan Israel didokumentasikan secara luas pada tahun 2023, 2024, dan 2025, yang merenggut nyawa sekitar 706 anggota keluarga di Gaza. Semua indikator menunjukkan bahwa serangan-serangan ini bukanlah akibat yang tidak disengaja dari kondisi perang.

Komite tersebut melaporkan bahwa pada tahun 2023, 436 anggota keluarga jurnalis Palestina terbunuh, diikuti oleh 203 orang pada tahun 2024, dan 67 orang pada tahun 2025. Hal ini terjadi di sela pengungsian paksa yang membuat mayoritas warga Gaza tinggal di tenda dan tempat penampungan. 

Kantor berita WAFA melansir, laporan tersebut menekankan bahwa ratusan anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia dibunuh Israel karena salah satu anggota keluarga mereka berprofesi sebagai jurnalis. Ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap norma dan hukum kemanusiaan internasional. 

Pengungkapan terbaru soal penargetan ini terjadi beberapa lalu. Saat pekerja sipil di Gaza membersihkan reruntuhan rumah jurnalis Heba Al-Abadia di Khan Younis yang dibom hampir dua tahun lalu, mereka menemukan juga jenazah ibunya dan sekitar 15 anggota keluarga Al-Astal. 

Kasus-kasus yang terdokumentasi menunjukkan berbagai bentuk penargetan, termasuk serangan langsung terhadap rumah jurnalis, membunuh banyak anggota keluarga, dan dalam beberapa kasus, seluruh keluarga; menargetkan daerah pengungsian dan tenda-tenda tempat banyak keluarga mengungsi setelah rumah mereka hancur; dan penembakan berulang kali di wilayah yang diketahui menjadi tempat tinggal jurnalis dan keluarga mereka tanpa peringatan yang efektif.

Komite Kebebasan menekankan bahwa hal ini mewakili perubahan kualitatif dalam perilaku pendudukan, yang beralih dari penargetan individu ke penargetan kolektif. Keluarga telah menjadi alat tekanan dan hukuman kolektif, serta melanggar prinsip-prinsip hukum humaniter internasional. 

Laporan tersebut mencatat bahwa pendekatan ini mengubah jurnalisme menjadi ancaman tidak hanya bagi jurnalis tetapi juga terhadap lingkungan sosial dan keluarga mereka, sehingga mengikis dukungan masyarakat terhadap pekerjaan media dan melemahkan lingkungan yang melindungi jurnalis.

Muhammad al-Lahham, ketua Komite Kebebasan sindikat tersebut, mengatakan skala dan konsistensi serangan tersebut merupakan kejahatan internasional. Peristiwa tahun lalu, katanya, “merupakan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, dan merupakan penargetan sistematis terhadap kelompok yang dilindungi, jurnalis, dalam kerangka kebijakan resmi untuk membungkam media dengan kekerasan”. 

Al-Lahham menolak klaim bahwa jurnalis secara tidak sengaja terjebak dalam perang. Apa yang diterapkan Israel, katanya, adalah “doktrin lapangan yang didasarkan pada prinsip ‘tidak boleh ada saksi, tidak ada narasi, tidak ada gambar’”. 

Pada bulan Desember, laporan Reporters Without Borders (RSF) menemukan bahwa Israel membunuh lebih banyak jurnalis pada tahun 2025 dibandingkan negara lain.  

Laporan tersebut menggambarkan tahun 2025 sebagai “tahun yang berulang kali diwarnai penargetan massal terhadap jurnalis, terutama di tenda-tenda, rumah sakit, dan pertemuan pers”. Mereka memperingatkan bahwa Palestina telah menjadi salah satu tempat paling berbahaya di dunia untuk praktik jurnalisme. (Red)

Redaksi
Bagikan

By Redaksi

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *