KURIKULUM berbasis Outcome Based Education (OBE) merupakan salah satu pilihan bagi perguruan tinggi untuk mendekatkan dunia pendidikan dengan dunia usaha. Tentu tidak mudah untuk mengimplementasikannya. Perlu perangkat dan tenaga pendidik yang handal dan berkualitas agar dapat tercapai dengan baik.

Mahasiswa yang memiliki kemampuan intelektual yang baik akan menjadi input yang sangat bagus dalam melaksanakan kurikulum ini. Begitu juga dengan dosen-dosennya yang harus memiliki kemampuan dalam mentransformasikan ilmu dan pengetahuan kepada mahasiswa sehingga proses pelaksanaan Kurikulum OBE bisa berjalan dengan baik.

Dengan demikian input yang baik dengan proses yang berkualitas akan menghasilkan output yang baik pula. Sehingga outcome berupa lulusan yang berkualitas akan mudah diterima dunia kerja atau industri.

Sejatinya konsep mendekatkan dunia pendidikan dengan dunia usaha sudah pernah digulirkan beberapa waktu lalu. Salah satunya yang dikenal dengan konsep link and match yaitu konsep penyelarasan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja/industri untuk menciptakan lulusan yang relevan dan kompeten sesuai kebutuhan pasar. Tujuannya adalah agar lulusan memiliki keterampilan yang tepat sasaran, sehingga memudahkan mereka untuk terjun ke dunia profesional. Hal ini bisa dicapai melalui kolaborasi dalam menyusun kurikulum, pelatihan magang, dan melibatkan praktisi industri dalam proses belajar mengajar. 

Kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) merupakan sistem pendidikan yang fokus pada hasil belajar (learning outcomes) yang harus dicapai oleh mahasiswa, bukan sekadar pada materi yang diajarkan. Seluruh komponen pendidikan, mulai dari perencanaan, strategi pengajaran, hingga penilaian, dirancang untuk memastikan mahasiswa menguasai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang relevan untuk dunia kerja dan masyarakat. 

Seperti dinukil dari berbagai sumber, ada beberapa hal penting dalam Kurikulum OBE sebagaimana dijelaskan pada poin-poin berikut:

Prinsip dan karakteristik utama:

  • Berpusat pada hasil belajar: fokus utamanya adalah apa yang mahasiswa tahu dan bisa lakukan setelah lulus (profil lulusan).
  • Capaian pembelajaran (CPL): profil lulusan diuraikan menjadi capaian pembelajaran yang harus dicapai per mata kuliah.
  • Keselarasan: semua komponen kurikulum harus selaras dengan profil lulusan, mulai dari materi kuliah, metode pembelajaran, hingga penilaian.
  • Adaptif: kurikulum ini lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman dan dunia kerja, dengan melibatkan masukan dari pemangku kepentingan (stakeholder) seperti pengguna lulusan dan industri.
  • Evaluasi yang detail: penilaian dirancang secara detail untuk mengukur penguasaan mahasiswa terhadap capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.
  • Dukungan dan harapan tinggi: menekankan pada perluasan kesempatan belajar dan dukungan agar semua mahasiswa bisa mencapai keberhasilan belajar. 

Perbedaan dengan kurikulum lama:

  • Kurikulum lama: fokus pada apa yang dosen ajarkan dan materi yang disiapkan sebelum kelas.
  • Kurikulum OBE: fokus pada apa yang mahasiswa dapatkan dan kuasai, sehingga dosen dapat merancang materi dan metode sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
  • Adaptabilitas: kurikulum OBE dinilai lebih adaptif dan relevan dengan dunia kerja dibandingkan standar yang lebih kaku pada kurikulum lama (seperti kurikulum KKNI). 

Manfaat implementasi OBE:

  • Memenuhi kebutuhan dunia kerja: Memastikan lulusan memiliki keterampilan yang siap digunakan di dunia kerja.
  • Meningkatkan daya saing: Membantu perguruan tinggi memastikan lulusannya mampu bersaing di skala global.
  • Mendukung akreditasi: Penerapan OBE sangat membantu perguruan tinggi dalam memenuhi kriteria akreditasi, baik nasional maupun internasional. 

oleh: Syam Batubara
(Direktur LKD-PM/Dosen)

Redaksi
Bagikan

By Redaksi

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *