JAKARTA – Di tengah semakin meluasnya kampanye legalisasi hubungan sesama jenis di berbagai negara, masih terdapat 66 negara yang mempertahankan aturan hukum yang melarang hubungan homoseksual.

Data tersebut merupakan pembaruan terbaru yang dirilis situs Erasing 76 Crimes pada Juni 2026 lalu.

Laporan itu menunjukkan, jumlah negara yang masih memiliki undang-undang anti-homoseksual terus mengalami perubahan.

Di satu sisi, sejumlah negara mencabut ketentuan pidana tersebut melalui putusan pengadilan atau perubahan undang-undang. Namun di sisi lain, beberapa negara justru mengadopsi aturan baru yang memperkuat kriminalisasi terhadap hubungan sesama jenis.

Perubahan terbaru datang dari Niger. Negara di Afrika Barat itu resmi melarang homoseksual pada 11 Juni 2026. Sebelumnya, Burkina Faso dan Mali juga mengesahkan aturan serupa sepanjang 2025 sehingga menambah jumlah negara yang masih mempertahankan larangan serupa.

Situs Erasing 76 Crimes menyebutkan, kini terdapat 66 negara yang masih memiliki undang-undang anti-homoseksual. 

Pernyataan itu menjadi gambaran bahwa meskipun tren dekriminalisasi terus berlangsung di sejumlah kawasan, masih banyak negara yang memilih mempertahankan aturan tersebut sesuai sistem hukum dan nilai yang dianut masing-masing.

Dilansir dari MUI Digital, Minggu (5/7/2026), dari total 66 negara tersebut, kawasan Afrika menjadi wilayah dengan jumlah negara terbanyak yang masih memiliki larangan terhadap homoseksual.

Negara-negara tersebut adalah sebagai berikut: 

  1. Aljazair
  2. Burkina Faso
  3. Burundi
  4. Kamerun
  5. Chad
  6. Komoro
  7. Mesir
  8. Eritrea
  9. Eswatini
  10. Ethiopia
  11. Gambia
  12. Ghana
  13. Guinea
  14. Kenya
  15. Liberia
  16. Libya
  17. Malawi
  18. Mali
  19. Mauritania
  20. Maroko
  21. Niger
  22. Nigeria
  23. Senegal
  24. Sierra Leone
  25. Somalia
  26. Sudan Selatan
  27. Sudan
  28. Tanzania
  29. Togo
  30. Tunisia
  31. Uganda
  32. Zambia 
  33. Zimbabwe.

Sementara di kawasan Asia dan Timur Tengah, negara-negara yang masih memiliki aturan serupa yaitu sebagai berikut:

  1. Afghanistan
  2. Bangladesh
  3. Brunei Darussalam
  4. Indonesia
  5. Iran
  6. Irak
  7. Kuwait
  8. Lebanon
  9. Malaysia
  10. Maladewa
  11. Myanmar
  12. Oman
  13. Pakistan
  14. Palestina (khusus Jalur Gaza)
  15. Qatar
  16. Arab Saudi
  17. Sri Lanka
  18. Suriah
  19. Turkmenistan
  20. Uni Emirat Arab
  21. Uzbekistan
  22. Yaman 

Di kawasan Amerika, kriminalisasi homoseksualitas masih berlaku di sejumlah negeri yaitu: 

  1. Grenada
  2. Guyana
  3. Jamaika
  4. Saint Vincent and the Grenadines
  5. Trinidad dan Tobago.

Sedangkan di kawasan Oseania, negara-negara yang masih mempertahankan larangan tersebut meliputi: 

  1. Kiribati
  2. Papua Nugini
  3. Samoa
  4. Kepulauan Solomon
  5. Tonga
  6. dan Tuvalu.

Adapun Eropa menjadi satu-satunya kawasan yang tidak lagi memiliki negara yang melarang homoseksual. Siprus Utara menjadi wilayah terakhir di Eropa yang mencabut aturan tersebut pada Januari 2014.

Salah satu hal yang menarik perhatian dalam laporan tersebut adalah masuknya Indonesia ke dalam daftar negara yang masih melarang homoseksual.

Namun demikian, status Indonesia berbeda dengan sebagian besar negara lainnya. Indonesia tidak memiliki aturan pidana nasional yang secara khusus mengkriminalisasi hubungan sesama jenis antara orang dewasa berdasarkan persetujuan.

Indonesia dicantumkan dalam laporan tersebut karena terdapat ketentuan hukum yang berlaku di beberapa daerah. 

Erasing 76 Crimes menyebutkan, larangan berlaku di Provinsi Aceh, Provinsi Sumatera Selatan, serta empat kota di provinsi lainnya yang memiliki regulasi daerah mengenai perilaku homoseksual.

Di Aceh, ketentuan tersebut diterapkan melalui Qanun Jinayat yang memberikan kewenangan kepada Mahkamah Syar’iyah untuk mengadili perkara tertentu, termasuk hubungan sesama jenis, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di provinsi tersebut. (Red)

Redaksi
Bagikan

By Redaksi

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *