
TEHERAN – Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menginstruksikan bahwa uranium diperkaya negaranya tidak akan dikirim ke luar negeri. Instruksi Mojtaba itu diungkapkan dua sumber dari kalangan pejabat senior Iran dikutip Reuters dilansir Independent, Kamis (21/5/2026).
“Instruksi Pemimpin Tertinggi, dan konsensus di dalam kepemimpinan, bahwa stok uranium diperkaya harus tidak keluar dari negara (Iran),” ujar salah satu pejabat senior Iran.
Para pejabat tinggi Iran, kata sumber itu, meyakini bahwa membawa keluar material uranium diperkaya ke luar negeri akan membuat Iran lebih rapuh dari serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Menurut data IAEA, Iran saat memiliki 440 kilogram uranium dengan tingkat pemurniaan 60 persen saat AS dan Israel melanarkan serangan ke fasilitas nuklir pada Juni 2025.
Sementara beberapa pejabat Israel kepada Reuters mengatakan bahwa, Presiden AS Donald Trump memberikan jaminan kepada Tel Aviv bahwa stok uranium diperkaya Iran yang dibutuhkan untuk membuat bom nuklir, akan dikirim keluar dari Iran dan kesepakatan apapun yang akan dicapai nantinya harus mencakup klausul soal uranium itu. Iran meski memperkaya uranium hingga tingkat pemurnian 60 persen sudah berulang kali membantah bahwa mereka berniat membuat bom nuklir.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa dia menimbang untuk melanjutkan perang hingga uranium diperkaya dikeluarkan dari Iran, Teheran mengakhiri milisi proxy mereka dan penghapusan kepabilitas rudal balistik Iran.
Dua sumber Iran mengatakan bahwa ada kecurigaan mendalam di dalam negeri Iran bahwa gencatan senjata saat ini adalah sebuah taktik tipuan Washington untuk menciptakan sebuah suasana krisis keamanan sebelum melanjutkan serangan. Negosiator Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, pada Rabu (20/5/2026) mengatakan bahwa “pergerakan jelas dan tersembunyi dari musuh” menunjukkan Amerika sedang mempersiapkan serangan baru.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengatakan bahwa Amerika Serikat akan bertindak sangat cepat jika Iran gagal memberikan “jawaban yang 100 persen memuaskan” selama negosiasi yang sedang berlangsung untuk mencapai kesepakatan. “Benar-benar di ambang batas. Percayalah, jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berjalan sangat cepat,” kata Trump kepada wartawan ketika ditanya tentang kemungkinan serangan terhadap Iran.
“Kami semua siap. Kami harus mendapatkan jawaban yang tepat. Itu harus berupa jawaban yang lengkap, 100 persen benar,” imbuhnya.
Dia menambahkan bahwa dalam skenario terburuk, AS dapat bertindak hanya dalam beberapa hari. “Kami berurusan dengan beberapa orang yang sangat baik… Kami berurusan dengan beberapa orang yang berbakat, dengan kemampuan berpikir yang baik, dan kami cukup terkesan dengan hal itu,” kata pemimpin AS tersebut.
“Mudah-mudahan orang-orang itu akan membuat kesepakatan yang akan menguntungkan semua orang,” imbuhnya.
Pada Selasa (19/5/2026), Trump mengatakan AS dapat melancarkan serangan baru terhadap Iran paling cepat pada 22 Mei atau awal pekan depan. Sehari sebelumnya, presiden AS itu mengatakan bahwa ia telah menangguhkan serangan tersebut menyusul permintaan dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Trump menambahkan bahwa permintaan tersebut diajukan karena adanya “negosiasi serius” yang sedang berlangsung, yang menurut para pemimpin Timur Tengah dapat menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima oleh Amerika Serikat. Namun, Trump mengatakan bahwa Washington tetap siap melancarkan serangan skala besar kapan saja jika tidak tercapai kesepakatan.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sasaran di Iran, sehingga menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Perundingan di Islamabad berakhir tanpa hasil, dan Trump memperpanjang gencatan senjata untuk memberi waktu kepada Iran untuk mengajukan “proposal terpadu.” (Red)
Sumber: Antara, Sputnik/RIA Novosti
