JAKARTA – Calon Presiden (Capres) dari Koalisi Perubahan Anies Baswedan mengungkapkan dalam debat perdana capres di KPU Jakarta, Selasa 12 Desember 2023 lalu, gagasan tentang perubahan telah disampaikan secara apa adanya kepada seluruh rakyat Indonesia.

“Yang saya percaya, masyarakat yang menilai ya, perbandingan. Kami tegas bahwa di dalam persoalan hukum, kita harus pastikan hukum itu tegak, tidak bengkok. Maka, saya beri ilustrasi tangan tegak begini, jangan kenyataannya bengkok. Bengkok itu artinya tajam ke bawah, tumpul ke atas,” terang Anies, Jumat (15/12/2023).

Anies juga ingin agar kepemimpinan nasional menjunjung tinggi prinsip etika. “Bahkan, saya sampaikan KPK misalnya, bukan hanya taat hukum, tetapi taat kode etik. Calon presiden harus menjunjung tinggi etika. Maka itu bagian dari masyarakat untuk menilainya,” ujar dia.

Menurut Anies, ada banyak dampak negatif kalau etika tidak dihormati. “Kita menyaksikan rekrutmen pegawai, rekrutmen untuk panitia, mau membeli tiket, semuanya mengandalkan orang dalam. Prinsip tentang yang berprestasi yang dapat posisi, kalah dengan yang punya orang dalam yang dapat posisi. Nah, itu di mana masalahnya, di etika,” tandasnya.

Menurut Anies, ketika etika dijunjung tinggi, maka prinsip meritokrasi, artinya yang berprestasi dapat posisi, akan dijunjung tinggi sebagai bagian dari perubahan.

Anies juga menjawab pertanyaan media, mengapa dalam debat capres di KPU seperti terlihat lebih menyerang Prabowo dibandingkan Ganjar. “Saya menyampaikan kenyataan, fakta-fakta yang ada di masyarakat. Jadi tidak ada yang khusus untuk satu dua orang, tapi memang kenyataan yang ada di masyarakat,” ujar Anies.

“Saya menyampaikan fakta. Teman-teman, kalau saya tanya, apakah hari ini berjalan dengan baik, apakah rasa keadilan sudah dirasakan? Kan itu kenyataan. Bukan soal kritik atau tidak, kami menyampaikan fakta dan berencana melakukan perubahan,” lanjutnya.

Menurut Anies berbeda pandangan, berbeda perspektif itu boleh. “Kita ini sama-sama anak bangsa Indonesia. Justru kejujuran di dalam menyampaikan pandangan secara terbuka dan kemudian kemampuan untuk menjaga suasana tenang itu untuk perubahan Indonesia. Jangan sampai terbalik: di panggung depan tenang, tapi di belakang malah bermasalah,” pungkasnya. (Red)

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *