Judi

ByRedaksi

Jul 8, 2024

JUDI. Sebagian besar penjudi adalah orang-orang -maaf- bebal. Seringkali nasihat dalam bentuk apa pun tidak bikin mereka sadar dan jera. Kedua kupingnya bak lubang paralon sehingga nasihat yang masuk kuping kanan, keluar kuping kiri.

Coba saja, dinasihati malah marah. Otak dan pikirannya sudah terjerat perangkap judi.

Sekarang, penjudi baru malah bermunculan. Tanpa kasta. Kaya miskin. Tanpa batasan usia. Orang tua sampai anak sekolah dasar.

Volume taruhannya terus bertambah. Membuat dahi bikin berkerut saat membaca omset judi online: Rp.600 triliun!

Padahal menang dan kaya dalam berjudi merupakan kemustahilan. Tidak ada orang kaya karena judi.

Loh, itu kaya (karena judi)! Bukan! Itu bandar judi!

Kalau yang itu? Bukan, juga. Dia beking bandar!

Beking itu seperti kentut. Bisa dirasakan baunya, tapi tidak bisa dibuktikan siapa yang menyemburkannya.

Bandar selalu kaya. Bandar recehan saja sejibun duitnya.

Seperti diberitakan bangunan yang digerebek itu seukuran ruko, tapi omsetnya tembus ratusan miliar rupiah. Ingat, sebanyak 12 deret angka!

Apalagi bandar sekelas kasino, pemiliknya menguasai asetnya hingga ratusan triliun rupiah. Ingat, angkanya sebanyak 19 deret!

Menurut data H2 Gambling Capital yang dipublikasikan Visual Capitalist, pendapatan kotor judi online secara global diperkirakan mencapai US$102 miliar atau setara Rp1.563,35 triliun pada 2021 (kurs Rp15.327/US$).

Kalau penjudi, mana bisa kaya. Apalagi kalau pendapatan penjudi hanya ratusan ribu atau gaji pas UMR (Upah Minimun Regional).

Boncos! Udahlah, tinggalin judi. Sebelum nyawa itu hilang oleh tangan sendiri.

Beneran, ini. Bukan menakut-nakuti.

Alurnya begini. Saat kecanduan judi dan kalah terus, tubuh memproduksi adrenalin dan endorfin yang mendorongnya berjudi terus. Ini yang membuat penjudi penasaran mau main judi terus.

Uang ludes sehingga bikin depresi. Salah satu efeknya mendorong pikiran untuk bunuh diri.

Mau? Nauzubillah! Bunuh diri adalah dosa besar yang tidak diampuni, bestie! Segera tobat. Stop berjudi!

Itulah mengapa Allah Swt memerintahkan stop berjudi sebagaimana dalam firman-Nya: “Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui minuman keras dan judi serta (bermaksud) menghalangi kamu dari mengingat Allah dan (melaksanakan) salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS Al Maidah: 91)

Hukum juga melarang permainan judi. Penjudi bisa dijerat Pasal 303 KUHP dengan ancama hukuman pidana 10 tahun penjara, atau denda Rp. 25 juta dan Pasal 27 Ayat (2) UU ITE 2024 tentang Judi Online.

Disuruh berhenti berjudi karena tidak mungkin menang. Sebaliknya boncos adalah keniscayaan.

Dari hasil penelitian, probabilitas menang judi itu 1 berbanding 2 juta. Artinya, untuk menang satu kali perlu ikut undian sebanyak 2 juta kali.

Temuan penelitian lainnya adalah diasumsikan modal judi Rp.100. Setiap 10 kali kalah harus bertaruh 1.000 kali lipat dari modal. Sebaliknya bila menang sebenarnya hanya balik pada titik impas Rp.100.

Judi makin beragam modelnya. Ada togel, sabung ayam, tebak skor, dan judi online.

Semua masih beroperasi. Tapi mainnya sembunyi.

Terperangkap judi sekarang ini gampang banget. Polanya mirip antar penjudi.

Bermula dari iseng. Kalah. Lalu, penasaran coba lagi. Menang sekali. Eh, malah ketagihan berkali-kali dan selalu kalah.

Sudah kalah, melarat pula. Bukan hanya dirasakan dirinya, tapi semua anggota keluarga merasakan efek kalah judi.

Beneran kata bang Haji Rhoma dalam lirik judi.

Judi (judi)…

Menjanjikan kemenangan…

Judi (judi)…

Menjanjikan kekayaan…

Bohong (bohong)…

Kalaupun kau menang…

Itu awal dari kekalahan…

Bohong (bohong)…

Kalaupun kau kaya…

Itu awal dari kemiskinan…

Pembobolan PDN menggeser isu judi online. Namun judi tidak boleh dibiarkan. Di saat otak masih mempersepsikan judi sekadar hiburan, pertanda tunggu waktu tergelincir dalam kehancuran pondasi keluarga hingga titik nadir.

Dr. Encep Saepudin, S.E., M.Si.
Pemulung Kata

(Sumber: pwmu.co)

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *