JAKARTA – Sejumlah pengamat merespons janji calon wakil presiden (cawapres) nomor urut dua Gibran Rakabuming Raka soal hilirisasi digital.

Mereka secara jujur mengaku tidak mengerti dengan maksud hilirisasi digital yang dikatakan oleh putra Jokowi tersebut.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Izzudin Al Farras Adha misalnya. Ia mengatakan tidak ada istilah hilirisasi digital dalam dunia akademik.

“Saya tidak tahu karena tidak ada istilah hilirisasi digital di dalam berbagai literatur akademik maupun dokumen laporan terkait,” katanya.

Izzudin karena itu mengatakan yang sebaiknya menjelaskan pengertian hilirisasi digital Gibran adalah tim sukses Prabowo-Gibran.

Segendang sepenarian dengan Izzudin, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengaku heran dengan istilah hilirisasi digital ala Gibran tersebut. Ia menyebut apa yang disampaikan Gibran tidak lah jelas.

Dia mengatakan hilirisasi digital kemungkinan hanya diucapkan Gibran untuk kepentingan kampanye semata.

“Hilirisasi digital itu program yang tidak jelas, tidak terarah, hanya untuk strategi kampanye menyasar pemilih yang terkesima dengan jargon-jargon hilirisasi dan digital. Tapi jadi bahan tertawan masyarakat lainnya,” katanya.

Nailul menjelaskan hilirisasi biasanya proses pengolahan bahan baku atau raw material menjadi barang yang memiliki nilai tambah tinggi.

“Apa yang mau dihilirisasi dari digital? Teknologinya, manusianya, atau apa? Ini dari digital apa yang raw material? Nilai tambahnya di mana?,” katanya dilansir dari CNNIndonesia.com, Senin (25/12/2023).

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira juga mengatakan hilirisasi yang disampaikan Gibran agak rancu karena digital merupakan jasa, bukan barang industri atau komoditas.

Padahal terminologi hilirisasi, kata Bhima, biasanya melekat pada penciptaan nilai tambah pada sektor berbasis komoditas atau industri.

“Kalau yang dimaksud Gibran seperti AI kemudian blockchain dan web3 itu lebih tepatnya inovasi digital. Maksudnya mungkin pengembangan digitalisasi karena saat ini sudah sampai pada tahap web4 dimana teknologi internet tidak hanya terdesentralisasi tapi juga tersebarluas,” kata Bhima. (Red)

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *