
TEHERAN – Panglima Markas Besar Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, menegaskan Angkatan Bersenjata Iran berada dalam status siaga tinggi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan Pemimpin Revolusi Islam, Sayyid Mojtaba Khamenei, pada Minggu (10/5/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Abdollahi memaparkan laporan mengenai kesiapan militer Iran. Abdollahi menegaskan bahwa seluruh pejuang memiliki “moral tempur yang tinggi” serta kesiapan untuk melakukan pertahanan maupun penyerangan yang matang.
Dia menekankan, militer terus mengembangkan rencana strategis serta peralatan tempur dan persenjataan yang diperlukan untuk menghadapi setiap tindakan musuh. Abdollahi menambahkan, pasukan tetap dalam siaga penuh dan siap memberikan respons yang kuat serta cepat terhadap setiap agresi atau kesalahan perhitungan strategis yang dilakukan oleh pihak lawan.
Lebih lanjut, Abdollahi menegaskan, angkatan bersenjata Iran sepenuhnya mematuhi arahan Pemimpin Revolusi. Dia tetap berkomitmen membela prinsip-prinsip Revolusi Islam, kedaulatan Iran, serta kepentingan nasional.
Sementara itu, Sayyid Khamenei menyampaikan apresiasi atas upaya serta kesiapan para pejuang dan personel Angkatan Bersenjata Iran. Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, pemimpin tertinggi juga mengeluarkan arahan dan langkah-langkah baru yang bertujuan untuk melanjutkan operasi saat ini serta menghadapi kekuatan musuh usai perang AS-Israel selama 40 hari melawan negara tersebut.
Arahan tersebut bertujuan untuk memastikan kelanjutan operasi dan memperkuat respons yang tegas dan efektif terhadap musuh.
Merujuk pada arahan sebelumnya selama perang agresi yang dilakukan oleh AS dan rezim Israel, Khamenei mencatat bahwa militer Iran telah menghasilkan—berkat rahmat ilahi—kemenangan yang luar biasa dan mencegah musuh mencapai tujuan jahat mereka.
Kesiapan Angkatan Laut
Dalam kesempatan terpisah, Panglima Angkatan Laut Iran, Laksamana Shahram Irani, menyatakan pada hari yang sama bahwa kapal-kapal selam Iran telah “siap beroperasi, dikerahkan, dan bersiaga di dasar laut.”
Laksamana Irani menjelaskan, penempatan kapal selam di dasar laut merupakan metode untuk memperkuat kekuasaan di Selat Hormuz dalam jangka waktu lama guna menangkal kapal-kapal permukaan. Ia menambahkan, kapal selam ringan buatan dalam negeri Iran sangat sesuai untuk menghadapi berbagai jenis ancaman yang ada di selat tersebut.
“Kapal selam kami dikenal sebagai ‘Lumba-lumba Teluk Persia’. Mereka melakukan manuver taktis selama masa perang dan kemudian kembali ke kedalaman laut untuk melanjutkan misi mereka,” ungkapnya.
Senada dengan itu, juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Akrami Nia, menegaskan adanya peningkatan kemampuan operasional militer serta pemutakhiran basis target strategis Iran. Ia juga memberikan peringatan kepada negara-negara yang berpartisipasi dalam sanksi AS bahwa mereka mungkin akan menghadapi kendala saat melintasi Selat Hormuz.
Ia menjelaskan, Iran telah menunjukkan kemampuan militernya dan berhasil bertahan serta menjalankan operasi ofensif maupun defensif. “Musuh pada akhirnya terpaksa melakukan gencatan senjata setelah menyadari ketidakmampuan mereka untuk mematahkan ketangguhan angkatan bersenjata Iran,”tegas dia. (Red)
