
TEHERAN – Iran menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi putaran kedua dengan Amerika Serikat (AS) selama lima tuntutannya dipenuhi untuk memulihkan kepercayaan dengan Washington.
Kantor Berita Fars yang dikutip pada Rabu (13/5/2026) mengungkapkan, dengan mengutip sumber, syarat-syarat dari Iran tersebut merupakan “jaminan minimum” yang wajib dipenuhi supaya negosiasi baru dengan AS dapat dilangsungkan.
Lima tuntutan Iran itu ialah mengakhiri perang di semua garda, khususnya Lebanon; pencabutan sanksi; pencairan aset Iran yang dibekukan; kompensasi atas kerusakan perang; serta pengakuan atas hak kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
Iran juga telah menyampaikan kepada Pakistan, selaku mediator, bahwa keberlanjutan blokade laut AS di Laut Arab dan Teluk Oman setelah gencatan senjata semakin meningkatkan rasa ketidakpercayaan Iran untuk melakukan pembicaraan terbaru soal negosiasi dengan AS, menurut sumber tersebut.
Laporan tersebut menambahkan tuntutan Iran itu semata-mata demi menciptakan kepercayaan untuk kembali ke meja perundingan. Teheran pun meyakini negosiasi tak dapat dimulai tanpa perwujudan konkret atas kelima syarat tersebut.
Menurut Fars, kelima syarat dari Iran tersebut diajukan sebagai balasan atas 14 poin usulan dari pihak Amerika. Usulan Amerika dinilai terlalu berat sebelah dan hanya sebagai upaya mengamankan tujuan yang gagal dicapai dalam perang.
Pada Ahad (10/5/2026), Iran menyampaikan kepada Pakistan atas respons mereka terhadap proposal AS untuk mengakhiri perang. Presiden AS Donald Trump menyebut respons Iran itu benar-benar tak dapat diterima.
Iran dilaporkan masih mempertahankan sekitar 70 persen potensi rudal dan mendapatkan kembali akses terhadap 30 dari 33 lokasi peluncuran dekat Selat Hormuz, menurut The New York Times yang mengutip data intelijen AS. Data itu juga menyebutkan Iran masih memiliki sekitar 70 persen sistem peluncuran rudal.
Selain itu, Iran juga dilaporkan telah memulihkan akses ke 90 persen fasilitas bawah tanah dan sistem peluncuran yang sebagian atau sepenuhnya siap digunakan. Menurut laporan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan penasihat militernya telah melebih-lebihkan skala kerusakan yang ditimbulkan pada fasilitas rudal Iran, dengan menganggap kerusakannya jauh lebih parah dari kenyataannya, serta meremehkan ketahanan dan kemampuan Iran untuk bangkit kembali.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran yang dibalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik AS di Timur Tengah. Amerika dan Israel awalnya mengeklaim serangan mereka itu diperlukan untuk melawan ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Namun, mereka segera memperjelas bahwa serangan itu dilakukan karena mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Kemudian, pada 7 April, Amerika dan Iran mengumumkan gencatan senjata, dilanjutkan dengan pembicaraan di Islamabad yang berakhir tanpa terobosan. Tidak ada laporan mengenai dimulainya kembali permusuhan, tetapi AS telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. (Red)
Sumber: Antara, Anadolu
