
GAZA – Jalur Gaza disebut tengah memasuki fase paling berbahaya dari kelaparan massal terorganisasi. Krisis itu dipicu semakin terbatasnya bantuan kemanusiaan dan meluasnya pembatasan wilayah yang memperdalam kehancuran ekonomi serta kemanusiaan di wilayah terkepung tersebut.
Sebagaimana dilansir dari the Palestine Chronicle, Jumat (22/5/2026), peringatan itu disampaikan Kantor Media Pemerintah Gaza di tengah laporan terbaru yang menunjukkan pembatasan berkepanjangan dan penguasaan wilayah telah mengubah kondisi geografis sekaligus masa depan ekonomi Gaza.
Situasi yang sebelumnya dianggap sebagai dampak sementara perang kini dinilai mulai berubah menjadi krisis struktural dengan konsekuensi jangka panjang.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan, Israel terus menggunakan makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan sebagai alat tekanan terhadap lebih dari dua juta warga Palestina yang hidup dalam kondisi semakin memprihatinkan.
Menurut otoritas Gaza, jumlah bantuan yang masuk sejak kesepakatan gencatan senjata masih jauh di bawah kebutuhan. Setelah gencatan senjata diberlakukan, lebih dari 131 ribu truk bantuan diperkirakan masuk ke Gaza. Namun, yang terealisasi hanya sekitar 48.600 truk atau sekitar 37 persen dari kebutuhan.
Kondisi itu disebut semakin memburuk sepanjang Mei. Pada periode 1 hingga 18 Mei, sekitar 10.800 truk bantuan dijadwalkan masuk, tetapi hanya 2.719 truk yang berhasil mencapai Gaza. Angka itu hanya sekitar seperempat dari jumlah yang dibutuhkan.
Otoritas Gaza menilai kebijakan yang mereka sebut sebagai “bantuan tetes demi tetes” telah menguras cadangan pangan dan memaksa pengurangan berbagai program bantuan.
Lebih dari 250 ribu keluarga kini disebut sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan. Sementara lebih dari 1,5 juta warga menghadapi ancaman kerawanan pangan yang terus memburuk.
Israel juga dituduh menghalangi masuknya daging, makanan beku, dan kebutuhan pokok lainnya. Krisis listrik dan pembatasan bahan bakar turut memperparah keadaan karena mengganggu sistem pendingin makanan, sehingga meningkatkan risiko pembusukan bahan pangan serta kasus keracunan dan malnutrisi, terutama pada anak-anak, pengungsi, dan lansia.
Di tengah memburuknya kondisi kemanusiaan, para analis memperingatkan perubahan wilayah yang terjadi saat ini juga sedang menghancurkan fondasi ekonomi Gaza.
Analis ekonomi Ahmad Abu Qamar mengatakan kepada Quds News Network bahwa apa yang disebut sebagai “Garis Kuning” kini tidak lagi sekadar menjadi zona keamanan militer, melainkan instrumen yang memengaruhi kondisi geografis dan kehidupan ekonomi di Gaza.
Menurut dia, zona tersebut kini mencakup sekitar 60 persen wilayah Gaza. Pembatasan itu juga meliputi lebih dari 80 persen lahan pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung produksi pangan lokal dan sumber penghidupan ribuan keluarga.
Sebelum perang, Gaza memiliki sekitar 195 ribu dunum lahan pertanian, termasuk sekitar 95 ribu dunum yang aktif digunakan untuk produksi tanaman dan buah-buahan. Sektor pertanian sebelumnya menyumbang lebih dari 11 persen aktivitas ekonomi Gaza.
Namun kini, sebagian besar lahan itu disebut tidak lagi dapat diakses atau telah hancur akibat perang.
Abu Qamar juga menyoroti kerusakan besar yang melanda kawasan industri di Gaza utara, timur, dan selatan.
Menurut dia, indikator ekonomi saat ini menunjukkan keruntuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kontraksi ekonomi sepanjang 2025 dilaporkan telah melampaui 87 persen dibandingkan kondisi sebelum perang.
Tingkat pengangguran disebut menembus lebih dari 80 persen, sementara angka kemiskinan telah melampaui 90 persen populasi Gaza.
Ratusan ribu keluarga kehilangan sumber penghasilan utama mereka. Para petani dan pelaku usaha kecil juga mengalami kerugian finansial yang sangat besar.
Abu Qamar menilai bahaya terbesar bukan hanya terletak pada skala kehancuran, tetapi pada perubahan besar yang kini sedang berlangsung di Gaza.
Menurut dia, penghentian aktivitas pertanian, lumpuhnya sektor industri, dan matinya kegiatan perdagangan berisiko mengubah Gaza secara perlahan dari masyarakat yang bertumpu pada produksi dan kerja menjadi wilayah yang sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan demi bertahan hidup.
Berbagai organisasi kemanusiaan kini memperingatkan bahwa krisis kelaparan dan keruntuhan ekonomi di Gaza tidak lagi berjalan sebagai dua bencana terpisah, melainkan saling berkaitan dan akan menentukan masa depan Jalur Gaza. (Red)
- PSSI Panggil 44 Pemain Jelang Hadapi Oman dan Mozambik - May 22, 2026
- Kelaparan Massal di Gaza Semakin Membahayakan - May 22, 2026
- Hari ke-32 Operasional Haji 1447 H-2026 M: 202.643 Jemaah telah Diberangkatkan - May 22, 2026
