
JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menegaskan pentingnya ketajaman dan keselarasan visi strategis bagi para pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) dalam menentukan arah kebijakan sebuah institusi.
Haedar dalam Leadership Training (LT) Angkatan XII untuk para rektor dan wakil rektor PTMA, menyampaikan bahwa seorang pemimpin kampus harus mampu memilai prioritas dengan tepat baik antara agenda operasional dengan agenda strategis yang berdampak jangka panjang.
Haedar menilai, ketepatan itulah yang menjadi kunci akselerasi kemajuan PTMA di tengah persaingan global yang semakin kompetitif. Maka, terdapat lima hal yang ditekankan Haedar dalam dimensi visi strategis yang perlu terinternalisasi oleh seluruh pimpinan PTMA.
Yang pertama, penguatan konsep dan norma gerakan. Haedar menekankan bahwa perguruan tinggi harus dibangun di atas fondasi konseptial yang kuat, termasuk menghadirkan branding khas berbasis nilai-nilai Risalah Islam Berkemajuan.
“Bukan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang semata hanya sebagai knowledge, tapi juga sebagai value yang melahirkan sikap dan orientasi tindakan,” ujar Haedar dikutip dari laman resmi Muhammadiyah pada Selasa (14/7/2026).
Lalu yang kedua, berkaitan tentang pembenahan organisasi dan kepemimpinan. Dalam hal ini Haedar mendorong perubahan etos kerja dari pola birokratis menuju etos swasta yang mandiri dan berdaya juang tinggi.
“Apa etos swasta itu? Mandiri, hemat, standar for life-nya tinggi,” ujarnya.
Dan yang ketiga adalah perluasan jaringan (networking). Ia menilai, kolaborasi menjadi kekuatan utama dalam menghadapi kompleksitas tantangan modern. Sekaligus juga dalam poin ini ia mengingatkan pentingnya membangun sinergi antara PTMA dengan struktur persyarikatan.
“Kunci networking adalah kolaborasi, networking yang kuat juga akan melahirkan hegemoni. Jadi silahkan nanti networking-nya antara yang besar dengan yang kecil,” jelas Haedar.
“Yang besar enggak bisa hidup sendirian. Begitupun yang kecil juga tidak bisa dengan melestarikan kekecilannya terus,” tambahnya.
Selanjutnya yang keempaat adalah berkaitan dengan sumber daya. Di poin ini, Haedar mendorong pengembangan sumber daya diantaranya dengan upaya-upaya peningkatan kualitas dosen dengan dukungan belajar.
Bagi Haedar, pimpinan kampus harus selalu menjadi motor penggerak peningkatan kualitas dosen, sekaligus juga mengembangkan unit bisnis profesional.
Lalu yang kelima yaitu komitmen kepada keunggulan kampus. Haedar menegaskan bahwa keunggulan adalah komitmen kolektif yang diwujudkan dalam kualitas lulusan yang siap bersaing di dunia kerja.
“Jadi harus membangun keunggulan, karena Muhammadiyah ini pertaruhannya di situ. Universitas kita harus unggul agar menjadi daya saing sekaligus diminati masyarakat,” tekannya.
“Kan sekarang ini masyarakat itu berharap kalau kuliah bisa langsung bekerja. Nah ini bisa diulik dengan keras bagaimana PTMA bisa menyiapkan lulusannya untuk siap kerja. Itu hal yang bagus,” tambah Haedar.
Diakhir Haedar mengajak seluruh pimpinan PTMA untuk menjadi pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan, mampu membaca perubahan zaman, serta berani mengambil keputusan strategis demi kemajuan institusi. Menurutnya, kepemimpinan yang visioner bukan hanya mengelola keadaan yang ada, tetapi juga menghadirkan arah baru (Show the way) yang membawa perubahan dan kemajuan.
Ia berharap Leadership Training ini dapat menjadi ruang konsolidasi bagi para pimpinan PTMA untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan, memperluas kolaborasi, serta menyatukan langkah dalam mewujudkan PTMA yang unggul, berdaya saing global, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam Berkemajuan. (Red)
- Iran Tegaskan Sebagai Penjaga Selat Hormuz Selamanya - July 14, 2026
- Lima Pilar Kemajuan Kampus Muhammadiyah Hadapi Persaingan Global - July 14, 2026
- Israel Semakin Biadab, Empat Warga Gaza Kembali Syahid - July 13, 2026
