JAKARTA – Bank Indonesia mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tembus US$405,7 miliar atau Rp6.339,61 triliun (kurs Rp15.626 per dolar AS) pada Januari kemarin.

Posisi itu turun dibandingkan dengan posisi ULN pada Desember 2023, yang mencapai US$408,1 miliar. BI melalui pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta, Jumat (15/3/2024), menyatakan ULN ini bersumber dari utang pemerintah dan swasta.

Untuk ULN pemerintah tercatat sebesar US$194,4 miliar, turun dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya yang US$196,6 miliar. BI menyatakan secara tahunan, ULN pemerintah tumbuh sebesar 0,1 persen secara year on year, melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 5,4 persen.

Penurunan posisi ULN pemerintah ini kata BI dipengaruhi oleh pelunasan seri Surat Berharga Negara (SBN) yang jatuh tempo.

“Pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk fokus mendukung upaya pemerintah dalam pembiayaan belanja program prioritas dan perlindungan masyarakat di tengah masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global,” kata Asisten Gubernur BI Erwin Haryono.

Dukungan tersebut katanya, mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (21,2 persen dari total ULN pemerintah), administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (18 persen), jasa pendidikan (16,9 persen), konstruksi (13,7 persen), serta jasa keuangan dan asuransi (9,7 persen).

Sementara itu untuk ULN swasta tercatat US$196,7 miliar, sedikit turun dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya sebesar US$198,1 miliar.

BI menyatakan secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,6 persen secara year on year, melanjutkan kontraksi pada bulan sebelumnya sebesar 1,4 persen.

Kontraksi pertumbuhan ULN tersebut bersumber dari lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang masing-masing mengalami kontraksi sebesar 3,2 persen (yoy) dan 2,4 persen (yoy).

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan; jasa keuangan dan asuransi; pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin; serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 76,1 persen dari total ULN swasta.

BI menyatakan ULN saat ini masih cukup sehat. Kesehatan tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,4 persen dari 29,7 persen pada bulan sebelumnya.

“Serta didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 86,9 persen dari total ULN,” kata Erwin. (Red)

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *