
TEHERAN – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Kamis (28/5/2026), mengingatkan bahwa tidak akan pernah ada perdamaian di Timur Tengah hingga Israel dihancurkan. Dilaporkan AzerNews, Jumat (29/5/2026), peringatan IRGC ini dikeluarkan merespons pembunuhan sejumlah pejabat Hamas oleh tentara Israel dalam beberapa hari terakhir.
“Kecuali rezim jahat dan pembunuh-anak ini dihapus dari bumi, kawasan Asia Barat tidak akan menemukan perdamaian,” demikian pernyataan IRGC .
IRGC juga menyebutkan bahwa rencana perdamaian yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang digambarkan IRGC sebagai “jahat dan perjudian”, dinilai sebagai rencana yang berujung pada “kematian, pembunuhan, dan teror.”
AS baru saja melancarkan apa yang mereka klaim sebagai serangan “pertahanan” terhadap situs yang dicurigai menimbulkan ancaman terhadap tentara AS di Selat Hormuz. Sebagai response, IRGC meluncurkan serangan rudal dan drone ke pangkalan AS di Kuwait sambil mengancam serangan balasan selanjutnya akan lebih kuat jika AS terus melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Adapun di Lebanon, Israel terus mengintensifkan serangan udara dan mengembangkan serangan darat masuk lebih dalam ke selatan Lebanon. Eskalasi mematikan terjadi setelah IDF mengeluarkan instruksi pemindahan paksa warga di kota tua Tyre dan semua warga di selatan Lebanon, memaksa mereka pergi ke arah utara ke Sungai Zahrani.
Pada Rabu (27/5/2026), satu tentara IDF, Sersan Rotem Yanai (20) tewas dan dua prajurit lainnya terluka dalam sebuah serangan drone Hizbullah dekat perbatasan Lebanon. Seperti dilaporkan the Cradle, Yanai tewas setelah dua serangan drone berhasil menembus sistem pertahanan IDF dan menghantam sebuah zona militer.
Kewalahan menghadapi drone-drone Hizbullah, Angkatan Bersenjata Israel dilaporkan Anadolu tengah meminta bantuan sistem dan teknologi tambahan ke Amerika Serikat. Komandan Lapangan Mayor Jenderal Nadav Lotan dilaporkan akan bertolak ke AS pada beberapa hari ke depan untuk mencari sistem persenjataan guna menangkal ancaman drone.
Jumlah meninggal
Sumber-sumber medis di Jalur Gaza pada Kamis (28/5/2026) melaporkan jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 mencapai 72.819 orang, dengan 172.894 lainnya mengalami luka-luka. Dilaporkan bahwa rumah sakit di Jalur Gaza menerima enam korban tewas dan 39 korban luka dalam 48 jam terakhir.
Menurut sumber tersebut, jumlah warga Palestina yang tewas sejak gencatan senjata 11 Oktober 2025 bertambah menjadi 922 orang. Sementara itu, jumlah korban terluka mencapai 2.786 orang dan sebanyak 781 jenazah berhasil ditemukan.
Sumber yang sama menjelaskan bahwa sejumlah korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan jalanan, lantaran hingga saat ini tim penyelamat dan ambulans belum dapat menjangkau mereka.
Adapun di Lebanon, jumlah korban tewas akibat serangan Israel hingga Selasa (26/5/2026) mencapai 3.213 warga sipil tewas dan 9.737 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak 2 Maret. “Pada 27 Mei, jumlah korban tewas akibat agresi Israel mencapai 3.269 orang, dengan 9.840 lainnya terluka,” kata Kemenkes Lebanon, Rabu (27/5/2026). (Red)
Sumber: Antara, WAFA, Sputnik/RIA Novosti

