WASHINGTON – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam rencana Israel yang akan memperluas area pendudukan atas Jalur Gaza. Entitas Zionis itu sebelumnya menyebut akan mencaplok 70 persen wilayah Palestina tersebut.
Juru bicara PBB Stephane Dujarric menegaskan, Jalur Gaza seluruhnya adalah wilayah Palestina dan harus dimiliki oleh rakyat Palestina.
“Seratus persen Gaza harus menjadi milik rakyat Palestina,” kata Stephane Dujarric kepada wartawan di markas besar PBB di New York, Amerika Serikat (AS), sebagaimana dikutip pada Sabtu (30/5/2026).
PBB terus menyerukan agar Israel mundur dari wilayah pendudukan di sepanjang apa yang disebut sebagai “garis kuning.” Itu adalah garis imajiner yang membagi Jalur Gaza berdasarkan rencana gencatan senjata Presiden AS Donald Trump pada Desember 2025 lalu dan diklaim Washington sebagai “perbatasan baru” bagi Israel.
“Kami telah menyerukan Israel untuk menarik diri dari pendudukannya di sepanjang apa yang disebut garis kuning, dan itu akan terus menjadi posisi kami,” ujar Dujarric.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan, pihaknya saat ini menguasai sekitar 60 persen wilayah Jalur Gaza.
Netanyahu juga mengisyaratkan rencana untuk memperluas wilayah yang berada di bawah kendali Israel hingga mencapai 70 persen. Bagaimanapun, sosok yang telah dijatuhi status penjahat perang oleh Mahkamah Pidana Internasional itu tidak menjelaskan bagaimana langkah itu akan dilakukan.
Militer Israel pada Oktober 2025 menyatakan telah menguasai 53 persen wilayah Gaza setelah melakukan penempatan ulang pasukan ke area yang dikenal sebagai “garis kuning.”
Langkah itu merupakan bagian dari tahap pertama rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.
Rencana tersebut mencakup penarikan pasukan Israel lebih lanjut pada tahap kedua yang dimulai Januari lalu.
“Garis kuning” merujuk pada zona pemisah sementara di Gaza bagian timur yang membatasi wilayah di bawah kendali militer Israel dan area yang masih dapat dihuni warga Palestina.
Namun, sumber-sumber Palestina menyebut batas tersebut terus bergeser ke arah barat dalam beberapa bulan terakhir.
Pejabat senior Hamas Bassem Naim mengatakan kepada Anadolu bahwa Israel telah menggeser garis itu lebih jauh. Dampaknya, pergeseran itu mencaplok sekitar 8 hingga 9 persen wilayah Jalur Gaza.
Menurut Naim, langkah tersebut membuat area yang berada di bawah kendali Israel kini mencapai lebih dari 60 persen wilayah Jalur Gaza.
Terpisah, Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) pada Jumat (30/5/2026) menyatakan, rencana Netanyahu untuk memperluas wilayah yang berada di bawah kendali Israel di Jalur Gaza merupakan eskalasi yang sangat berbahaya.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran warga Palestina terhadap dampak dari pengumuman tersebut.
Perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada Oktober lalu menetapkan bahwa pada tahap pertama, militer Israel tetap menguasai sekitar 53 persen wilayah Jalur Gaza.
Namun, Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan memperluas wilayah kendalinya hingga mencapai 70 persen pada tahap awal, meskipun dia tidak menjelaskan rincian maupun jadwal pelaksanaannya.
Hamas mengecam pernyataan tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari rencana pembersihan etnis serta pengusiran paksa rakyat Palestina dari tanah mereka. (Red)
- PBB Kecam Rencana Israel Kuasai 70 Persen Jalur Gaza - May 30, 2026
- Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri Melaju ke Final Singapore Open 2026 - May 30, 2026
- Jemaah Nafar Tsani Mulai Bergerak dari Mina ke Makkah - May 30, 2026
